![]() |
Guru MTsN IV Angkat Candung Tanam Jagung untuk Mushalla |
Guru harus banyak akal supaya siswa jadi pintar. Tapi di MTsN IV Angkat
Candung Kab Agam, akal guru bukan hanya untuk menjadikan siswa pintar,
tetapi juga bagaimana supaya mushalla yang sedang dibangun cepat bisa
dipergunakan. Berbagai cara dilakukan, mulai dari menghimpun donatur,
mengumpulkan sumbangan hingga mengadakan tablik akbar.
Salah satu terobosan yang terbilang unik dilakukan oleh guru adalah dengan berkebun jagung. Terobosan ini dikatakan unik karena luas lahan yang dijadikan ladang hanya berukuran lebih kurang 8 X 10 meter. Kecil sekali untuk ukuran kebun. Namun berkat keyakinan bahwa setiap usaha pasti ada hasilnya, lahan itu tetap di olah. Guru-guru, dipimpin langsung oleh Kepala Madrasah Hj Yesimakhmi, S. Pd. dengan penuh semangat menggulung kaki celana dan membuka kaus kaki, menggarap dan menanami lahan sempit itu. Tak terasa waktu berlalu, tiga bulan setelah benih disemai, jagung siap dipanen.Tukang pergedel datang menawar. Guru-guru tak mau menjual karena tukang pergedel membeli perkarung. Kalau dijual, paling dapat lima karung. Berapalah uangnya.
Akhirnya, guru-guru berinisiatif membeli sendiri hasil kebun mereka. Guru yang punya anak banyak, membeli dua puluh tongkol, yang punya anak sedikit membeli sepuluh tongkol. Membeli empat puluh tongkol juga boleh. Setongkalnya seribu rupiah. Ternyata jagung belum habis, maka ada guru yang berinisiatif mengolah jagung jadi makanan jadi, yaitu lapek jaguang. Guru-gurupun berebutan membelinya. Lapek jaguang yang dibungkus dengan kulit jagung itu dijual dua ribu rupiah sebungkus.
Salah satu terobosan yang terbilang unik dilakukan oleh guru adalah dengan berkebun jagung. Terobosan ini dikatakan unik karena luas lahan yang dijadikan ladang hanya berukuran lebih kurang 8 X 10 meter. Kecil sekali untuk ukuran kebun. Namun berkat keyakinan bahwa setiap usaha pasti ada hasilnya, lahan itu tetap di olah. Guru-guru, dipimpin langsung oleh Kepala Madrasah Hj Yesimakhmi, S. Pd. dengan penuh semangat menggulung kaki celana dan membuka kaus kaki, menggarap dan menanami lahan sempit itu. Tak terasa waktu berlalu, tiga bulan setelah benih disemai, jagung siap dipanen.Tukang pergedel datang menawar. Guru-guru tak mau menjual karena tukang pergedel membeli perkarung. Kalau dijual, paling dapat lima karung. Berapalah uangnya.
Akhirnya, guru-guru berinisiatif membeli sendiri hasil kebun mereka. Guru yang punya anak banyak, membeli dua puluh tongkol, yang punya anak sedikit membeli sepuluh tongkol. Membeli empat puluh tongkol juga boleh. Setongkalnya seribu rupiah. Ternyata jagung belum habis, maka ada guru yang berinisiatif mengolah jagung jadi makanan jadi, yaitu lapek jaguang. Guru-gurupun berebutan membelinya. Lapek jaguang yang dibungkus dengan kulit jagung itu dijual dua ribu rupiah sebungkus.

Usaha guru ternyata tak sia-sia. Lahan yang semula tak produktif tersebut, berhasil mengumpulkan uang sebanyak Rp. 590.000,-. Menurut Drs. Hadrial, Wakil Kepala bidang sarana MTsN IV Angkat Candung, panen Februari lalu, merupakan panen kedua dilahan tersebut. Panen sebelumnya bulan Oktober, jagung berhasil terjual Rp. 553.000,-. Tidak banyak memang, jika dibandingkan dengan kebutuhan dana untuk tuntasnya pembangunan mushalla yang baru 40% selesai.
“Namun kesungguhan mereka mencurahkan segenap pikiran untuk pembangunan mushalla, itu yang patut dihargai,” ujar Kepala MTsN IV Angkat Candung Hj. Yesimakhmi, S. Pd. (hardiyusri)